Tumpek kandang

Makna Dan Pengertian Tumpek Kandang

Posted on

Makna Dan Pengertian Tumpek kandangTumpek Kandang atau Tumpek Uye adalah hari raya yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye yang datang setiap 210 hari. Dalam Lontar Sunarigamaujian “Saniscara Kliwon Uye pinaka prakertining sarwa satoć. Artinya, hari itu memang itu tonggak untuk melestarikan semua jenis hewan. Perayaan Tumpek Kandang sedang prosesi ritual untuk menyembah hewan. Tumpek Kandang adalah acara keagamaan untuk memuja Siwa Pasupati, Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menginspirasi satwa tumpek Kandang pada intinya umat memuja Sang Hyang Siwa Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai rajanya semua makhluk hindu.

Tumpek kandang
Poto by inputbali.com

Tumpek Uye disebut juga Tumpek Wewalungan / Oton Wewalungan atau Tumpek Kandang, yaitu hari selamatan pada para binatang piaraan (binatang yang dikandangkan) atau binatang ternak (wewalungan).

Di dalam hari-hari suci agama Hindu di Bali ada enam jenis hari suci Tumpek, yaitu Tumpek Uye (Tumpek Kandang) yaitu upacara selamatan untuk binatang; Tumpek Bubuh atau Tumpek Wariga melakukan upacara selamatan untuk tumbuh-tumbuhan; Tumpek Landep lewat selamatan untuk senjata (yang terkait dengan piranti yang tajam); Tumpek Kuningan, selamatan untuk gamelan; Tumpek Wayang selamatan untuk wayang; dan Tumpek Krulut selamatan untuk unggas. Susun selamatan untuk unggas ini pada hari tumpak Uye.

Baca juga: Hari Humpek Handep

Mengapa membuat selaman terhadap hal ini? Dalam ajaran agama Hindu, keharmonisan hidup dengan semua makhluk dan alam semesta senantiasa diamanatkan. Manusia maunya selaras dan hidup hamonis dengan alam semesta, khususnya bumi ini dan dengan ciptaan-Nya yang lain, termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang.

Dalam ajaran Hindu, semua makhluk percaya memiliki jiwa yang berasal dari Ida Sang Hyang Widhi. Doa umat Hindu sehari-hari (dalam puja Tri Sandhya) dengan tegas menyatakan Sarvaprani hitankarah (semoga semua makhluk hidup sejahtra) adalah doa yang bersifat universal untuk keseimbangan jagat raya dan segala isinya. Upacara selamatan untuk binatang untuk menumbuhkan rasa kasih sayang kepada semua binatang, khususnya binatang ternak atau piaraaan.

Pada saat Tumpek Kandang, hewan khususnya ternak dibuatkan otonan. Dalam prosesi ritual itu umat memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi agar ternak peliharaannya diberkati. Oke, secara konsep kembali kita tekankan, perayaan Tumpek Uye / Tumpek Kandang itu mengandung makna yang dibutuhkan untuk mencintai kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Dikatakannya, dalam Sarasamuscaya ada kekurangan “Ayuwa tan masih cincin sarwa prani, apan prani ngaran prana,” yang tidak boleh sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Itu berarti, umat mesti mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk. Khusus pada perayaan Tumpek Kandang, umat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa Pasupati agar hewan peliharaannya diberkati kerahayuan. Sebab, hewan sangat berguna untuk kehidupan manusia. Misalnya, sapi atau kerbau bagi para petani memiliki peran yang sangat besar dalam membantu aktivitas agrarisnya. Sapi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain dipakai membajak sawah, sapi juga membantu petani untuk meningkatkan kesejahteraan.Harga jualnya cukup menggiurkan,

Demikian juga ternak yang lain seperti babi, kambing, ayam, itik. Bahkan, babi bagi masyarakat Hindu di Bali sering dijadikan semacam tabungan atau celengan. Saat ini betul hajatan, babi tersebut dipotong atau jika kepepet uang, ternak yang sering disebut ubuhan tatakan banyu tersebut bisa dijual.

Baca juga: Kajeng Kliwon

Sebutan hewan yang ditakdirkan sebagai ubuan tunu, ayam, itik, babi dan sebagainya sering dijadikan sumber protein untuk menunjang kehidupan manusia. Untuk kepentingan itu hewan ternak memang terus dikembangkan. Tapi, khusus hewan-hewan yang lain, terutama satwa liar, manusia mesti melestarikannya seperti penyu hijau, burung jalak Bali, menjangan, kera dan sebagainya. Hewan-hewan langka itu mesti dijaga agar tidak sampai bisa kepunahan.

Untuk menjaga kepunahan satwa langka, di Bali dengan mitologi. Hewan-hewan tertentu karena Ida Batara (milik Tuhan), seperti sapi putih duwe, bojog (kera) duwe, lelawah (kelelawar) duwe, lelipi (ular) duwe dan sebagainya. Lewat mitologi seperti itu sungguh umat diajak untuk menjaga dan melestarikan satwa lewat konsep religi. Mitologi seperti itu yang jauh lebih kuat dari seruan atau ajakan untuk melestarikan satwa langka.

Untuk banten selamatan untuk binatang yang berbeda-beda menurut macam / golongan binatang-binatang itu antara lain:

  • Untuk banten selamatan bagi sapi, kerbau, gajah, kuda, dan yang semacamnya dibuatkan banten: tumpeng tetebasan, panyeneng, sesayut dan canang raka.
  • Untuk selamatan bagi babi dan sejenisnya: Tumpeng-canang raka, penyeneng, ketipat dan belayag.
  • Untuk banten sebangsa unggas, seperti: ayam, itik, burung, angsa dan lain-lain dibuatkan bebanten dengan berbagai jenis ketupat sesuai dengan nama atau unggas itu dilengkapi dengan penyeneng, tetebus dan kembang payas.

Dan untuk pemujaan dilakukan di sanggah / merajan, pengastawa Sang Rare Angon yaitu dewanya ternak dengan persembahan (hayapan / widhi-widhana) dari suci, peras, daksina, penyeneng, canang lenga wangi, burat wangi dan pesucian.

Demikian review tentang  Makna Dan Pengertian Tumpek kandang , semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang hari raya di bali. Terima kasih…

Sumber: https: //turuslumbung.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *