tabuh rah
Poto by nusabali.com

Pengertian Dan Unsur-Unsur Tabuh Rah Dan Sabungan Ayam (Tajen)

Posted on

Pengertian dan Unsur-Unsur Tabuh Rah dan Sabungan Ayam (Tajen) – Hubungan Tabuh Rah dengan Sabungan Ayam terdapat pandangan semu dari sebagian masyarakat awam, bahwa tabuh rah itu sama dengan sabungan ayam (tajen). Oleh karena itulah sangat perlu pemahaman dari kedua istilah tersebut. Tabuh rah atau Perangsata dalam masyarakat Hindu di Bali mensyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol atau syarat mensucikan umat manusia dari ketamakan, keserakahan, atau kelobaan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi. Tabuh Rah juga bermakna sebagai upacara ritual Bhuta Yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya. Oleh karena itu, dipandang dari filosofisnya, tabuh rah mengandung arti yang penting bagi upacara-upacara dalam agama Hindu.

tabuh rah
Poto by nusabali.com

Kata Tabuh Rah merupakan kata majemuk, yaitu rangkaian dua buah kata yang memiliki satu pengertian. Adapun kata dasarnya adalah “tabuh” dan “rah”. Secara etimologis kata tabuh rah berasal dari kata tawur yang berarti “bayar”
sedangkan kata rah berasal dari “darah”. Dengan uraian secara etimologis tersebut, maka kata tabuh rah berarti pembayaran dengan darah yang dilakukan dengan cara menaburkan darah pada tempat-tempat tertentu misalnya di pura. Tabuh rah biasanya dilakukan dengan beberapa cara dan selalu berhubungan dengan Bhuta Yadnya atau lazim di Bali disebut dengan mecaru (membuat acara kurban). Bhuta Yadnya sering dilakukan dengan mecaru, karena makna dari Bhuta Yadnya itu adalah mengharmonisasikan hubungan unsur-unsur Panca Maha Bhuta di Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Baca juga: Lontar Pengayam-ayam

Parisadha Hindu Dharma dan Istitut Hindu Dharma menyelenggarakan seminar pada Tahun 1976, dan berhasil merumuskan kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :

  1. Tabuh rah adalah taburan darah binatang korban yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara agama ;
  2. Sumber penggunaan tabuh rah pada Panca Yadnya ;
  3. Dasar penggunaan tabuh rah tercantum dalam Prasasti Sukawan A.I 804 Caka, Prasasti Batur Abang 933 Caka, Prasasti Batuan 944 Caka ;
  4. Fungsi tabuh rah adalah runtutan / rangkaian dari upacara agama (Yadnya) ;
  5. Tabuh rah berwujud taburan darah binatang korban ;
  6. Jenis–jenis binatang yang digunakan untuk tabuh rah yaitu ayam, itik, kerbau, babi dan lain-lain ;
  7. Penaburan darah dilaksanakan dengan “nyembelih” (perangsatha) telung perahatan, dilengkapi dengan aduaduan kemiri, telor, kelapa, beserta upakaranya ;
  8. Diadakan pada tempat dan saat upacara berlangsung oleh Sang Jayamana ;
  9. Diadakan dengan perangsatha disertakan toh dedamping (taruhan pendamping) yang maksudnya sebagai pernyataan atau perwujudan dari keikhlasan Sang Jayamana yang sedang melaksanakan upacara yadnya dan bukan bermotif judi ;
  10. Adu ayam yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut diatas tidaklah perangsatha dan bukan pula rangkaian upacara yadnya ;
  11. Pelaksanaan tabuh rah tidak minta ijin kepada yang berwenang.

Dengan dasar kesimpulan ini dapat ditentukan bahwa aduan ayam yang memenuhi kesebelas unsur tersebut adalah “tabuh rah”, sedang yang lainnya atau melebihi ketentuan itu bukanlah tabuh rah. Bahkan dalam pemilihan warna bulu ayam yang digunakan dalam tabuh rah harus bersesuaian dengan caru Panca Sata, yakni upacara korban yang
memakai lima ekor ayam, yang masing-masing berwarna putih, merah, siungan (ayam putih yang paruh dan kakinya yang berwarna kuning seperti burung siung), hitam dan brumbun (ayam yang warna bulunnya campuran dari warna putih, merah, kuning, hitam dan putih. Dengan demikian, warna dalam pelaksanaan tabuh rah sangat menentukan. Pemerintah Daerah Provinsi Bali, lebih mempertegas lagi syarat-syarat untuk pelaksanaan Tabuh rah, yakni :

  • Fungsi tabuh rah adalah sebagai runtutan / rangkaian dari upacara / upakara
    agama (yadnya) ;
  • Wujud tabuh rah adalah berwujud taburan darah hewan korban ;
  • Sarana yang digunakan adalah jenis-jenis hewan yang dijadikan korban yaitu
    ayam, babi, itik, kerbau, dan lain-lainnya ;
  • Cara penaburan darah yakni semburan darah dilakukan dengan penyembleh,
    perangsatha (telung perahatan) dilengkapi dengan aduaduan : kemiri, telor,
    kelapa, andelandel, beserta upakaranya ;
  • Pelaksanaan tabuh rah :
    1. Diadakan di tempat dan saat-saat upacara berlangsung oleh Sang Yajamana.
    2. Pada waktu perangsatha disertakan toh dedamping yang maknanya sebagai pernyataan atau perwujudan dari keikhlasan Sang Yajamana beryadnya, dan bukan bermotif judi.
    3. Pelaksanaannya memakai pakaian adat.
    4. Pelaksanaan tabuh rah tidak meminta ijin yang berwenang.
    5. Dalam melakukan perangsatha tidak ada penonton, melainkan hanya sebatas masyarakat desa setempat yang melaksanakan upacara keagamaan.
    6. Aduan ayam tidak memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut diatas tidaklah perangsatha dan bukan pula runtutan upacara yadnya.

Dengan demikian, bila pelaksanaan tabuh rah yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut diatas, berarti telah terjadi salah arti, dan tidak menutup kemungkinan terjadi penyalahgunaan tabuh rah sebagai ajang perbuatan
tindak pidana dalam bentuk perjudian sabungan ayam. Kehidupan tata pergaulan masyarakat di Bali, faktor tradisi merupakan hal penting, lebih-lebih lagi dalam hubungan dengan pelaksanaan upacara keagamaan. Warga masyarakat merasakan betapa pentingnya arti ikatan terhadap tradisi-tradisi yang mereka warisi. Mereka berpandangan bahwa apa yang diwarisi dari leluhurnya merupakan suatu pustaka, baik yang sifatnya kebendaan maupun merupakan pandangan hidup. Demikian pula halnya dengan tabuh rah di Bali yang sudah menjadi tradisi, telah berlangsung di masyarakat sejak dahulu hingga kini. Penaburan darah binatang korban seperti itu digemari orang karena disamping itu bertujuan religius, juga mengandung nilai hiburan bagi penggemarnya. Gaya dan gerak-gerik ayam yang sedang berlaga itu, bagi mereka menimbulkan rasa seni, sehingga logislah lama kelamaan fungsi tabuh rah dalam rangka upacara keagamaan (mecaru) yang dilakukan dengan mengadu ayam menjadi berkurang, sedang fungsi hiburan sangat menonjol.

Membahas tentang tabuh rah tidak lepas dengan sabungan ayam (tajen), Sabungan ayam di Bali disebut dengan Tajen dan telah ada sejak jaman kerajaan dan berlangsung hingga kini. Perkembangannya, sabungan ayam (tajen) yang pada awalnya berupa permainan yang berfungsi pengisi waktu yang kosong sebagai hiburan, lama kelamaan di tambah unsur baru guna menambah kegairahan dalam bermain dengan harapan untuk memperoleh kemenangan, yakni dengan memakai taruhan uang. Akibatnya, sabungan ayam (tajen) semakin berkembang yang mengakibatkan fungsi sebagai hiburan pada awalnya berkurang dan unsur judinya yang semakin lebih bertambah. Istilah tajen berasal dari kata “taji” yang artinya susuk pada kaki ayam. Pengertian taji ada hubungannya dengan pengertian tajam dalam Bahasa Indonesia, dan ”taji” dalam Bahasa Bali yang bermakna sesuatu yang runcing. Pengertian tajam ditekankan pada taji atau senjata yang digunakan oleh ayam dalam beradu, sebab hanya ayam yang diadu sajalah yang memakai taji.

Dalam Kamus Bali Indonesia, kata “tajen” berarti sabungan ayam. Istilah lain dari “tajen” adalah ”kelecan” yang berarti pula sabungan ayam. Dari pendapat Ida Bagus Purwita yang dikutip dari buku Bali dalam Perspektif Sejarah dan Tradisi karangan I Nyoman Suada bahwa adanya hal yang menarik mengenai uraian orang yang ingin berjudi dalam Lontar Dharmapajuden yakni, Bhatara Guru menyuruh membuat sabungan ayam untuk kesenangan.

Maka dengan demikian dikatakan bahwa erat relevansinya dengan sabungan ayam di Bali yang disebut dengan istilah klecan yang telah disebutkan sebelumnya pada penjelasan diatas. Mungkin klecan ini berasal dari kata “ica” yang berarti tertawa, senang atau diberi. Kata “ica” kemudian berkembang menjadi kata klecan yang artinya kesenangan. Demikian ulasan tentang Pengertian dan Unsur-Unsur Tabuh Rah dan Sabungan Ayam (Tajen) semoga  ini menjadikan inpirasi untuk menambah wawasan anda. Sampai jumpa di artikel selanjutnya… Dikutip dri berbagai sumber…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *