Makna Tebu Pada Saat Mejauman

Posted on
Makna tebu pada saat mejauman

Jika Anda pernah ikut mengantar pengantin ke rumah pengantin perempuan saat mejauman pada perkawinan adat Bali, mungkin Anda akan melihat pohon tebu yang diikatkan pada kendaraan yang mengangkut kedua mempelai. Lalu apa arti pohon tebu tersebut? Setelah upacara awiwaha samkara (ngayab banten pekeraban) selesai umumnya akan dilanjutkan dengan upacara mejauman.

Pada upacara mejauman pihak keluarga pengantin pria -laki mengantar kedua pengantin salam ke rumah pengantin perempuan. Keluarga pihak pengantin laki-laki membawa bebanten (sesajen) untuk dipersembahkan ke hadapan roh leluhur pihak pengantin perempuan yang berstana di sanggah kemulannya (tempat pemujaan keluarga).
Perlengkapan berupa bebanten (sesajen) itu disebut bebantenan jauman, yang berfungsi melaporkan kepada roh leluhur pihak pengantin perempuan bahwa sang pengantin perempuan telah pindah tempat tinggal dari keluarga pengantin perempuan ke keluarga pengantin pria. Apabila rumah tempat tinggal pengantin perempuan cukup jauh dari rumah tempat tinggal pengantin laki-laki, saat mejauman biasanya keluarga pihak laki-laki menyiapkan kendaraan untuk mengangkut kedua pengantin, anggota keluarga maupun undangan yang akan ikut mengantar ke rumah pengantin wanita. Pada kendaraan yang mengangkut kedua mempelai diikatkan pohon tebu.
I Gusti Rai Partia, BA dalam  bukunya Berbuat Benar Belum Tentu Baik  menjelaskan makna pohon tebu dianalisis berdasarkan sifat-sifat yang ada pada pohon tebu. Sifat-sifat yang baik pada pohon tebu yang ini dapat ditiru oleh pengantin baru yaitu:
Pertama,  sifat pohon tebu itu adalah manis dari akar sampai dengan pucuknya. Sampai ke pucuk manisnya berkurang yang penting rasa manis tetap ada. Demikianlah yang berhaknya berdua itu hidup dalam suasana bermanis-manis (bermesra-mesraan) dari awal sampai akhir.
Kedua,  pengantin laki-laki yang tidak diinginkan sebagai orang yang makan tebu, yaitu habis manis sepah dibuang.
Ketiga,  tebu itu bisa hidup dalam segala iklim dari pantai sampai ke pegunungan. Maksudnya agar pengantin itu hidup rukun dalam suasana suka dan duka.
Keempat,  sifat pohon tebu itu makin diperas makin bertambah manisnya. Maksudnya agar kebenci dibalas dengan kasih sayang dalam kehidupan bersuami istri. Kalau bernyanyi suami memarahi sang istri maka nyanyikan istri balas dengan nada yang mampu melenyapkan kemarahan sang suami. Dengan demikian hidup rukun suami istri bisa tercapai.
sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *